ISLAM SONTOLOYO.
Oleh: indra.
Salam!,
saudara pembaca kata salam diawal ini bukan saya maksudkan untuk berbasa-basi, bukan suatu upaya saya untuk menarik simpatik saudara-saudara kepada saya, juga tidak bertujuan untuk membangkitkan kemarahan saudara-saudara kepada saya. Kata salam tersebut saya pakai karena sebuah keharusan saya sebagai orang timur yang memang mau tidak mau sudah memiliki kebudayaan, dan selalu dipakai dalam tata cara adab walau kemanapun.Kemudian janganlah kiranya saudara-saudara pembaca jadi melebih-lebihkan ataupun mengurangi makna dari saya punya salam tersebut, sebab dengan kesadaran, saya juga telah menyaksikan kalau saudara-saudara yang juga dengan kesadaran saudara-saudarapun telah menyaksikan, bahkan kita semua telah menjadi korban oleh orang-orang yang berhasil menunggangi kata salam itu.
Sebagai contoh yang sangat kontras dalam hal ini, dapat kita lihat pada peristiwa yang belakangan ini sering kali terjadi, yaitu tindakan atau aktifitas makar, dilakukan untuk menyerang sekelompok orang yang dituduh telah melecehkan satu ajaran Agama namun tanpa pembuktian yang cukup, dan sayangnya orang-orang yang melakukan tindakan makar itu adalah orang-orang yang jika ditanya secara pribadi, mereka mengakui kalau diri atau pribadi-pribadi mereka adalah pribadi yang ber-Agama, alias orang yang mengaku ber-Agama, jadi seolah-olah Agama mereka mengajarkan atau membolehkan tindakan makar itu dilakukan.
Padahal kita semua tahu kalau tindakan makar itu hasilnya mudharat, karena selalu berupa kerugian, sangat identik dengan peng-rusakan baik itu fisik maupun mental.Saudara-saudara, saya kira sudah saatnyalah kita untuk dapat menela’ah lebih jauh, pada apa yang sering terjadi belakangan ini, yaitu mengenai kegiatan atau tindaka-tindakan makar yang dampaknya adalah peng-rusakan, apalagi kegiatan tersebut sangat identik bahkan sangat terkait oleh unsur politik yang tidak sehat, dengan sengaja menunggangi satu keyakinan Agama untuk menghantam keyakinan Agama yang lain.
Pahitnya lagi peristwa itu belakangan ini sering terjadi tidak lagi antar Agama satu dengan Agama yang lain, tapi sudah sesama Agama. Maksud saya mengajak saudara-saudara untuk menela’ah lebih jauh lagi, agar tersaring kebenaran yang terdapat didalam penomena peristiwa-peristiwa makar tersebut.Nalar saya mengatakan, kalau kita semua memang sangat ingin menjaga keutuhan esensi yang terkandung didalam tiap-tiap keyakinan kita pada sebuah Agama, kita rela melakukan apa saja untuk itu, membunuhpun saya rasa saudara-saudara siap jika ada seseorang atau segerombolan manusia yang mencoba menghinakan Agama saudara-saudara, karena itulah yang kita aggap jihad, saya siap menundukkan kepala saya sebagai rasa hormat saya kepada sikap dan tekad saudara-saudara jika benar seperti itu.
Tapi sebelum itu cobalah kita menggali lebih dalam lagi kepada apa yang kita bela itu, cobalah untuk dapat lebih mengenal terhadap apa yang kita bela itu, tujuannya tidak lain hanyalah untuk membuktikan nilai hakiki yang terkandung didalamnya, untuk itulah tulisan ini saya buatkan dengan maksud tidak menggurui karna tidak pantaslah saya menjadi guru dalam hal ini, karna saya pikir ilmu Agama saya masih rendah, masih seujung kuku jika dibanding dengan ilmu Agamanya para Ulama, syaeh, kiai, atau para pemuka agama lainnya, apalagi yang sudah duduk dimajelis para Ulama, yang sering kita dengar dengan sebutan MUI, jelaslah saya tidak ada apa-apanya jika ada yang membandigkan saya dengan mereka.Tapi saya merasa penting untuk mengambil sikap dalam hal ini, karena saya masih memiliki derajat yang sama dengan saudara-saudara, paling tidak kita adalah rakyat Indonesia, kita adalah pewaris negeri ini, jadi maju mundurnya negri ini, kita- toh!, akan tetap dapat giliran untuk ditanya, apakah kita punya tanggung jawab?, sebagai rakyat Indonesia saya merasa perlu untuk bersuara, merespon peristiwa-peristiwa akibat konflik Agama saat ini.
Suara saya disini bukan ingin membela atau menyalahkan kelompok yang menjadi korban atau kelompok yang telah melakukan tindakan makar tersebut, suara saya disini hanya saya upayakan untuk mendorong saudara-saudara agar mau kiranya mencari kebenaran yang terkandung didalam permasalahan, bukan malah mencari-cari kesalahannya. Jika tiap-tiap kita berani melihat, berani mengakui, berani mengambil kebenaran didalam sebuah permasalahan maka kita akan mudah mendapati solusi yang bijak untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang berlangsung, tapi jika sebaliknya, jika tiap-tiap kita ternyata terlalu sering melihat dan mengambil poin-poin yang dianggap kesalahan, maka jangan kaget kalau permasalahan akan semakin berkembang, disebabkan kegitan yang membawa pandangan dan pikiran kita pada kesalaha-kesalahan itu akhirnya mempropokasi hati kita untuk menebar kebencian, sayangnya kebanyakan dari kita, ya! – rakyat Indonesia, bahkan dari semua golongan ternyata masih banyak lagi yang belum menyadari, yang belum lagi meng-insafi akan kelemahan-kelemahan seperti ini.
Jika demikian keberadaannya, wajar saja konflik Agama itu sering kali terjadi, bahkan sekarang levelnya sudah sampai pada tingkat sesat menyesatkan, nah!, dilevel inilah kadang saya menjadi geli, kalau saya tidak kontrol diri saya mungkin orang-orang akan bilang saya ini orang gila, karena fatwa-fatwa sesat yang sering kali dikeluarkan oleh golongan Ulama itu membuat saya sering pula tertewa sendiri. Ketika saya telah melihat pada sisi kebenarannya ada pertanyaan yang datang dalam pikiran saya, antara kelompok yang menjadi korban dengan kelompok yang memfatwakan sesat atau yang membuat makar tadi, sebenarnya “siapa diantara mereka yang sesat?”.
Diawal-awal tadi saya sudah katakan, tiap-tiap kita pasti punya keinginan untuk membela agama yang kita yakini itu, jika dilihat ada yang akan melecehkannya, dan saya yakin para pemuka Agama yang duduk di Majelis Ulama Indonesia sedang melakukan hal ini, tapi saya mohonkan pada mereka disini, untuk bertindak janganlah sampai melanggar aturan negara yang sudah dibuatkan.Dalam UUD-1945, pasal-29, ayat-2, disitu sudah jelas-jelas dituliskan bahwa “negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk Agamanya masing-masing dan beribadat menurut Agama dan kepercayaannya masing-masing”.
Kemudian para pemuka Agama yang duduk di Majelis Ulama Indonesia itupun mengakui kalau diri mereka sedang memeluk Agama, yang kata mereka itu Islam, Islam ini tadilah yang mereka bela-bela denga melakukan penyerangan kepada sekelompok orang yang mengaku Islam juga. Tapi para pemuka Agama itu tadi, dalam pembelaan mereka terhadap Islam, nyatanya mereka seperti tidak mengerti, atau mungkin mereka pura-pura saja tidak mengerti dengan kalam Tuhan mereka, padahal kalam Tuhan mereka itu sudah tertulis didalam Kitab Suci, yang kalau orang Islam bilang Kitab Suci Al-Qur’an, disitu dituliskan larangan Tuhan kepada mereka agar jangan melakukan kerusakan dimuka bumi, larangan ini bisa saudara-saudara lihat dalam Surat Albaqarah, Ayat ke-11.Dan kalau kita mencoba melihat pada kelompok yang menjadi korban, jika mereka memang benar-benar sedang merealisasikan sebuah kebenaran, tentulah mereka harus mengikuti petunjuk yang lurus, pastinya yang sudah tertulis dalam Kitab Suci Al-Qur’an, dikarenakan Al-Qur’an itu kitab kebenaran menurut ke-Islam-an mereka, dan Al-Qur’an itu pula yang menjadi Kitab Suci uamat Islam sedunia.Tapi entah disebabkan oleh karena apa, mereka, kelompok-kelompok yang menjadi tempat pelemparan fatwa-fatwa sesat itu kini diam, melempem, seolah-olah hilang dia punya nyali, sepertinya mereka tak menemukan lagi petunjuk dari Kitab Suci mereka, dan seolah-olah Kitab Suci mereka itu lemah dibandingkan dengan fatwa-fatwa yang menyesatkan itu.Nah!, inilah yang saya maksudkan, jika mereka memang sedang meneggakkan kebanaran dengan menggunakan petunjuk yang lurus, ya itu dengan kalam-kalam ILLAHI, sudah barang tentulah mereka akan mendapati perintah dari Tuhan mereka, juga yang sudah tertulis dalam Kitab Suci mereka. Perintah itu dapat dilihat dalam Surat Albaqarah, Ayat ke-178, disitu tertulis bahwa Tuhan mereka mewajibkan untuk melakukan “Qisas”
.Jadi jelaslah saudra-saudara pembaca, jika mereka, kelompok-kelompok yang menjadi korban tadi tidak menjalankan perjuangan mereka dengan petunjuk yang lurus, tidak dengan kalam-kalam ILLAHI, alias tidak menggunakan kalam Tuhan mereka, yang mana kalam ILLAHI itu sudah tertulis didalam Kitab Suci Al-Qur-an, jika demi kian, pantas sajalah sekarang mereka-mereka itu jadi melempem, pantas sajalah mereka-mereka itu jadi diam tak bisa berbuat apa-apa.Saudara-saudara pembaca inilah sebab pertanyaan yang timbul dalam pikiran saya tadi, “siapa sebenarnya diantara mereka yang sesat”. Karena dari penjelasan saya tadi kita sudah dapat melihat, bahwa mereka yang terlibat didalam konflik Agama itu, sudah tidak lagi memakai kalam-kalam Tuhan mereka, ya itu Al-Qur’an, jadi apa sebenarnya yang mereka bela-bela itu?, sebab Islam bukan sekedar kata ataupun nama, Islam bukan sebatas sebut-sebutan, Islam juga bukan sekedar pengakuan, dan jika Islam dapat dibatasi oleh yang demikian, maka Islam itu akan menjadi Islam sontoloyo.
Demikianlah saudara-saudara suara saya, yang ingin mengajak saudara-saudara untuk mau, dan dapat menela’ah lebih jauh lagi kedalam permasalahan atas konflik Agama tesebut, ya!- karena Islam tidak bisa dibatasi oleh sesuatu apapun dari dunia ini, apa lagi batasan-batasan itu lahir dari pikiran kita, lahir dari ilmu pengetahuan yang ada di kepala kita, Islam itu fleksibel, Islam itu uptodate, bukan Islam sontoloyo.
Wassalam.
07-01-08 / 0812 63 93 951.