Oleh : INDRA
Salam!, -diartikel saya yang lewat, saya telah katakan bahwa telah banyak orang-orang yang berhasil menunggangi kata salam itu, namun walaupun demikian saya punya harapan besar pada saudara-saudara pembaca agar janganlah kiranya saudara-saudara jadi menyimpan rasa benci terhadap orang-orang yang demikian, sebab tanpa disadari mereka hanyalah merupakan bukti tentang adanya sebuah pergeseran, satu dinamika yang mendukung proses evolusi terhadap sesuatu yang dipahamkan secara turun temurun melalui alur kebudayaan sehingga menjadi kebiasaan publik.
Pengucapan kata salam tidak hanya suatu terapan yang ditemukan didalam unsur etika menurut kebudayaan saja, akan tetapi didalam setiap ajaran Agama apapun itu namanya, yang menjadi suatu legitiminasi tiap-tiap manusia sebagai akidah atau keyakinannya, juga memuat penegasan-penegasan tentang penerapan pemakaian kata salam tersebut, terlepas sipemakai menggunakannya untuk apa.
Jika merujuk pada esensialitas ajaran yang menjelaskan, pemakaian kata salam itu adalah sesuatu yang baik dan ditujukan untuk sesuatu yang baik pula, namun mengingat didalam esensialitas ajaran yang menjelaskan itupun terdapat pesan yang membatasi kita untuk tidak bersangka-sangka dalam menanggapi segala sesuatu, termasuk pemakaian kata salam tersebut, maka dalam artikel ini saya ingin beberkan sedikit penjelasan sebagai bekal untuk menetralisir segala prasangka yang tidak mungkin dihindari kedatangannya.
Sebagai mana hukum alam, evolusi adalah sesutu yang riil dan tidak ada kekuatan apapun yang mampuh untuk menahannya. Banyak contoh yang dapat kita teliti untuk membuktikan bahwa gerak lambat dari pergeseran pada proses evolusi tersebut tetap akan menghantarkan peristiwa pada awal mula kejadiannya, seperti musim kemarau dan musim hujan, atau pergantian waktu yang dapat dilihat dari alat penunjuk waktu yaitu jam, -setiap jarum akan bergerak dari angka awal menuju angka selanjutnya, dan akan kembali ke angka awal yang tadi, begitulah seterusnya.
Dari contoh ini sudah dapatlah kita melihat fungsi evolusi tersebut hanya untuk memberangkatkan satu peristiawa dari esensinya, kemudian akan mengembalikan peristiwa itu kembali pada esensinya yang semula.
Itulah pergeseran yang dimaksudkan dalam bahasan kita kali ini, dan itulah hukum alam. Jika ditanya siapakah yang mengatur semua ini? Tidak ada satu manusiapun yang mampuh mengatur semua ini, tidak satu manusiapun yang dapat mejadikan skenario tersebut, yang mampuh mengatur sekenario tersebut hanyalah Tuhan.
Berdasarkan keterangan inilah saya meminta kepada saudara-saudara agar jangan membenci orang-orang yang telah berhasil menunggangi kata salam itu, sebagai mana saya katakan tadi bahwa ternyata mereka hanyalah bukti dari sebuah pergeseran pada proses evolusi, begitu juga korban atau saksi atas penunggangan kata salam tersebut. Kedua bukti inilah yang dilibatkan sebagai alat transformasi untuk menghantarkan segala bentuk materi pada perubahannya, dan akan berlanjut menuju proses pengembalian materi tersebut pada keasliannya atau esensialitasnya.
Jika kita bicara tentang penunggangan kata salam, saya tegaskan, kata salam disini bukan sebuah materi yang akan ditransfomasikan, tetapi kata salam itu adalah isi dari sebungkus materi yang akan ditransformasikan. Lantas apakah materi yang membungkus kata salam itu? Tadi kita sudah mengetahui kalu pengucapan kata salam bukan hanya terapan yang dimuat didalam unsur-unsur kebudayaan saja, akan tetapi Agama apapun namanya juga sangat menganjurkan pemakaian kata salam tersebut.
Disini saya akan meng-konsentris-kan pembahasan kali ini dari kaca mata Agama. Jadi dengan demikian kita sedang akan meneliti, apakah ajaran Agama sudah mengalami pergeseran sebagaimana evolusi itu. Jika alurnya adalah sebuah Agama saya akan lebih bebas berbicara dari ruang lingkup Islam, karena saya orang Indonesia yang ber-Agama Islam. Akan tetapi bukan berarti pembicaraan ini saya batasi dari jangkauan saudara-saudara yang ada di Nasrani, Hindu, Buddah, Atau dari saudara-saudara yang berkeyakinan pada Agama Eleng sekalipun.
Justru saya sangat berharap kepada saudara-saudara yang diluar dari pada Islam agar dapat mengikuti pembahasan kali ini, jadikanlah ini satu formulasi yang relevan, sebagai mana saya maksudkan ini kepada saudara-saudara yang berkeyakinan sama dengan saya yaitu Islam. Kemudian kepada sauadara-saudara yang berkeyakinan Islam janganlah kiranya saudara-saudara nanti jadi memandang saya dengan pandangan yang bukan-bukan, disini saya hanya berupaya untuk mengingatkan kita pada sesuatu yang riil.
Saya tegaskan sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan saya tentang Islam tidaklah sedalam ilmu Agamanya para Ulama atau pemuka-pemuka Agama yang sudah tinggi jam terbangnya, ilmu Agama saya masih seujung kuku jika dibandingkan dengan mereka para Ulama atau pemuka-pemuka Agama itu. Tapi saya yakin seyakin-yakinnya bahwa saat ini saya sedang memeluk Agama Islam yang sesungguhnya. Kalau sauadara-saudara ingin membuktikan dengan cara membelah dada saya, saya akan siap, dan pastilah saudara-saudara akan dapat melihat kalimat Islam itu tertulis didalam saya punya dada.
Dengan kebenaran inilah saya memiliki keberanian mengajak saudara-saudara untuk melihat, apakah Islam saat sekarang ini masih melekat pada kwalitas esensialnya? Apakah Islam pada masa ini adalah Islam yang masih bisa dipertanggung jawabkan keasliannya? Saya katakan -tidak!, Islam sebagai akidah mayoritas masyarakat Indonesia itu telah mengalami pergeseran dari keasliannya, telah bergeser dari dasar-dasarnya. Hal ini juga tidak bisa tidak memang harus terjadi, tidak ada yang bisa menahannya sebagai mana kekuatan evolusi itu, dan proses pergeseran yang telah memisahkan Islam dari esensinya itu adalah sesuatu yang tanpa kita sadari kejadiannya, adalah satu kejadian yang tidak pernah ada diakal manusia secerdas apaun.
Secara manusiawi peristiwa itu adalah peristiwa yang tidak dapat kita terima, oleh karena niat untuk menggeser akidah Islam itu dipandang tidak pantas untuk dilakukan. Sikap ini menunjukkan bahwa tidak ada seorang manusiapun yang memiliki kesanggupan untuk mengeser akidah Islam tersebut apalagi manusia itu adalah penganut akidah Islam itu sendiri. Dengan demikian dapatlah kita melihat bahwa niat dan kesanggupan itu tidak lain adalah niat dan kesanggupan Tuhan itu sendiri, seperti kesimpulan kita yang selama ini sering kita sebut-sebut bahwa Tuhan Maha Kuasa.
Jika tidak seorang manusiapun yang dapat melakukan hal itu maka tidak seorang manusia pula yang dapat menahan hal itu terjdi, kalaupun ada manusia yang mencoba membendung pergeseran didalam Islam itu berarti manusia itu mencoba melawan kekuasan Tuhan.
Pergeseran dalam Islam itu memang harus terjadi, namun janganlah kiranya kita menanggapi keadaan itu didasari oleh sikap sudjon atau sangka buruk, karena sebagai mana evolusi dengan pergeseran-pergeseran yang ditimbulkannya itu akan tetap dengan proses itu pula Islam tadi akan dikembalikan kepada esensinya.
Kita ketahui bahwa Islam adalah ajaran yang dibawa oleh Baginda Rasullullah Muhammad Bin Abdullah itu berdasarkan ke-iman-an, kata iman tadi diangkat dari bahasa Arab yang artinya percaya. Segala sesuatu apapun bentuknya, agar dapat diterima oleh kita sebagai sesuatu yang pantas di-percaya-i alias di-iman-i adalah sesuatu yang dapat disentuh oleh kita punya akal, setelah itu sesuatu yang bisa dicerna oleh akal tadi harus dapat pula bergesekan langsung dengan panca indera kita, setelah melewati dua fase tadi barulah sesuatu itu dapat dimasukan kedalam hati sebagi sebuah keyakinan yang tidak khayal sebab terbukti keberdaan wujud materinya.
Setiap sesuatu yang diharapkan kepada kita agar dapat mempercayainya, jika tidak melengkapi fase-fase yang tadi kita sebutkan sudah barang tentu itu sesuatu yang khayal, sebab sedikitpun tidak menyentuh akal atau logika, tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat, tidak dapat diendus-endus baunya bagaimana. Sesuatu yang kapasitasnya hanya sebatas imajinasi atau khayalan tentu itu sesuatu yang tak memiliki wujud, sesuatu yang tak berwujud adalah sesuatu yang tidak memiliki bukti, sesuatu yang tidak terbukti itu adalah sebuah kebohongan.
Nah!, Agama islam tidak mengajak kita untuk berkhayal, Agama Islam sangat menganjurkan untuk mengikuti segala sesuatu yang nyata, sebab orang Islam menyembah Tuhan yang maha nyata yaitu Allah. Namun bagaimana kita bisa membuktikan kalau Allah itu bukan sesuatu yang khayal alias nyata, padahal selama ini kita tidak pernah bertemu dengan Tuhan yang bernama Allah itu? Memang kita tidak pernah mampuh untuk membuktikan seberapa nyata Allah itu walau dengan alat bantu secanggih apapun. Oleh sebab kelemahan kita yang demikian ini maka Allah sendiri yang akan memperkenalkan dirinya kepada kita, sebab itulah Allah menurunkan Kitab sebagai keterangan dan penjelasan untuk kita, dengan Kitab itulah kita akan dapat mengenal Allah, tapi untuk mendapatkan penjelasan yang jelas dan terang tentang kalimat-kalimat yang terkandung didalam Kitab tersebut ternyata kita juga harus membutuhkan orang yang ahli sebagai mana Muhammad yang di utus Allah untuk menyampaikan dan menerangkan kalimat-kalimat yang sekarang telah di-Kitab-kan itu.
Sampai disini kita juga akan menjadi bingung manakah orang yang benar-benar ahli dibidang ini, apa lagi skarang banyak ahli-ahli kitab yang bermunculan, mirip jamur dimusim hujan tapi tdk satupun diantara mereka yang dapat me-logika-kan apa yang kita bicarakan dalam pembahasan kali ini. Jadi jelaslah orang yang kita butuhkan sebagai ahli disini bukan sebatas ahli Kitab, akan tetapi orang itu juga adalah ahli waris.
Karena seorang ahli waris sudah pasti menguasai Kitab, tapi kalau ahli Kitab belum tentu mampuh mewarisi apa yang ditugaskan Allah kepada Muhammad, baik penjelasan-penjelasan tentang yang dituliskan didalam Kitab maupun perjuangan untuk menempatkan ajaran Allah yaitu Islam kembali kepada esensi atau dasar-dasarnya, kemudian kalu kita mengetahui Muhammad bin Abdullalh adalah seorang pilihan atau yang dipilih oleh Allah maka pewarisnya juga adalah seorang yang terpilih sebagai mana Muhammad Rasullullah itu.
Dengan demikian terujilah ke-iman-an kita sebagai seorang manusia yang meyakini satu Agama, dan ter-logika-kan lah Agama yang berdasarkan ke-iman-an itu bagi setiap penganutnya oleh karena kehadiran seseorang penerus perjuangan, seseorang yang akan meneruskan perjuangan Baginda Rasul terdahulu. Kehadiran sipenerus inilah yang akan melunturkan ke-iman-an sekaligus akan menyempurnakan ke-iman-an tersebut. Begitu jugalah kehadiran Muhammad Bin Abdullah ketika itu, beliau datang ditengah-tengah umat yang terlebih dulu sudah menganut Agama atau ajaran Tuhan yang dibawa oleh Isa, Musa atau yang lain yang lebih dulu hadir ketimbang mereka.
Wajarlah jika kedatangan Muhammad Bin Abdullah ketika itu sangat sulit diakui dan sangat sulit untuk diterima, walau kita tahu, bahkan orang-orang dizaman itupun tahu kalau kedatangan Muhammad Bin Abdullah jarak waktunya cukup jauh setelah wafatnya Isa, begitu juga Isa putra Maryam didatangkan oleh Allah dengan jarak yang cukup jauh setelah wafatnya Musa as. Itu membuktikan bahwa setiap ajaran Allah yang dibawa oleh utusannya itu akan mengalami pergeseran sejauh saat ketika ditingglkan oleh sipembawanya yaitu utusan Allah tadi, kemudian pergeseran itu akan mengarah kepada pengembalian ajaran Allah tadi kepada dasarnya yang semula, prose itu pastilah dengan ketentuan Allah yang mendatangkan seseorang untuk melakukan pekerjaan ini sebagai penerus atau pengganti orang yang sebelumnya.
Secara otomatis orang yang didatangkan oleh Allah sebagai pengganti orang yang sebelumnya tadi akan mengalami kesulitan yang sama dengan kesulitan orang yang terdahulu sebelumnya, karena kedatangan orang itu tepat ditengah-tengah umat yang sudah memiliki dan meyakini satu Agama, juga sudah sangat meng-idola-kan bahkan mengkultuskan orang terdahulu yang mereka percaya-i atau iman-i sebagai pembawa ajaran Agama tersebut walau sesusungguh mereka tidak pernah bertemu sama sekali dengan orang yang mereka kultuskan itu.
Nah!, sejauh ini tiap-tiap personal kita harusnya sudah dapat menyadari juga meng-insaf-i kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan terhijabnya kita punya pikiran, sehingga begitu entengnya kita mengatakan percaya alias iman kepada orang yang membawa ajaran Tuhan itu, sebagai mana Isa putra Maryam atau Muhammad bin Abdullah padahal kita tidak hidup dan tidak pernah berjumpa dengan mereka, dan tadi sudah kita sudah bukakan bahwa manusia yang hidup ketika itu kebanyakan menolak bahkan menentang kedatangan para utusan Tuhan itu.
Kalaulah kita hidup pada zaman dimana para utusan itu dihadirkan Allah mungkin saja kita adalah salah satu manusia yang akan menentangnya, mungkin kita salah satu manusia yang ikut memerangi Muhammad bin Abdullah, mungkin kita salah satu manusia yang ikut menyalib Isa putra Maryam itu. Seperti itulah bentuk-bentuk penolakan yang dibuatkan manusia saat itu terhadap kehadiran mereka para utusan Tuhan tersebut, sebab kebudayaan yang berlangsung saat itu secara turun temurun adalah mengharuskan percaya atau iman pada utusan yang terdahulu, yang sudah tak kelihatan lagi wujudnya alaias sudah lama wafatnya.
Bedasarkan keyakinan, kepercayaan atau ke-iman-an yang secara kultural inilah kebanyakan manusia itu akan menimbulkan ketakutan dan kecemburuan jika idola yang dikultuskannya itu tadi diduakan, bahkan kebanyakan manusia itu juga akan menanggapi dengan pikiran mereka yang terhijab tadi kalau kehadiran si utusan Tuhan itu akan melecehkan Agama mereka. Tidak hanya itu, kebanyakan manusia dengan pikirannya yang terhijab itu akan berpikir bahwa tidak ada lagi manusia yang sama seperti utusan Tuhan yang terdahulu yaitu yang telah lama wafat itu.
Saudara-saudara sungguh sangat berartilah pesan-pesan orang pintar itu, yang mengarah pada ajakan agar kita mau belajar dari sejarah, bukankah didalam Kitab Suci Al-Qur’an dituliskan sejarah, bahwa setiap kali datang utusan Allah, maka selalu pula utusan Allah itu akan sangat menjunjung tinggi utusan Allah yang terdahulu sebelum dia. Jika kita mau membukakan sedikit saja tabir didalam pikiran kita maka kita akan dapat melihat bukti-bukti itu, ya! –bukti seorang utusan yang menjunjung tinggi utusan yang sebelumnya, bukankah didalam Kitab Suci Al-Qur’an itu sudah dijelaskan kalau Muhammad bin Abdullah sangat menjunjung tinggi Isa putra Maryam atas tugas yang diembannya, begitu juga Isa putra Maryam beliau sangat menjunjung tinggi Musa as atas tugas yang dienbannya, dan begitulah seterusnya sampai kepada Nuh as yang sangat menjunjung tinggi Adam as.
Jangankan Kitab Suci Al-Qur’an, Kitab Injil pun menjelaskan sejarah ini, jadi dengan demikian jelaslah bahwa tidak pernah ada pelecehan Agama didalam proses ini, tidak ada penghinaan terhadap utusan Allah yang terdahulu itu, justru yang sangat tampak didalam proses ini adalah penyelamatan Agama, proses yang demikian ini adalah proses penghargaan yang sebesar-besarnya kepada utusan Allah yang terdahulu itu.
Inilah evolusi, sebagaimana hukum alam, tidak ada yang dapat membendung kekuatan dari pada proses ini, kalaupun ada yang mencoba membendung proses evolusi itu, maka sama artinya melawan kehendak Tuhan dan orang-orang yang demikian ini akan pula tergilas dengan roda evolusi itu, sebab saat kereta globalisasi telah dilepaskan, seiring dengan itu maka proses evolusi tadi akan semakin cepat bergulirnya, akan semakin kencanglah roda evolusi itu berputar, dan berubah pulalah wujud evolusi tadi menjadi wujud revolusi dikarenakan kecepatan proses itu akan terus bertambah dan semakin bertambah.
Dengan begitu sempurnahlah kalimat untuk menyebut gerak ini menjadi “Revolusi Islam”, kemudian manusia yang dipilih oleh Allah untuk mengemban tugas itu akan menjadi vigor yang pantas disebut dengan sebutan “revolusioner”.
Saudara pembaca, saya pikir sampai disini sajalah dulu kupasan kita mengenai Revolusi Islam ini, sebenarnya masih banyak lagi yang perlu saya utarakan didalam Revolusi Islam ini, tapi sementara ini saya tak ingin membuat saudara pembaca memjadi jenuh, nanti dilain kesempatan kita akan lanjutkan,
wassalam.
28 06 09/0812 63 93 951