Jika bertanya orang kepada kamu; bagaimana membaikkan hati, supaya baik semua anggota yang dzahir ? Karena satu hadits berbunyi: “Bahwasanya di dalam tubuh anak adam ada segumpal daging yang apa bila baik ia niscaya baik seluruh badan, dan apabila binasa ia niscaya binasa sekalian badan. Ketahuilah olehmu sekalian bahwa segumpal daging itu adalah HATI”.
Maka jawab olehmu, bahwa membaikkan hati dengan meng-‘amal-kan ‘ilmu thariqat dan membanyakkan dzikru Allahu Ta’aala. Sekarang perhatikan manakah yang dinamakan meng-‘amalkan ‘ilmu thariqat dan mana pula yang dinamakan dzikru Allahu Ta’aala.
Sebagian ‘ulama membagi-bagi ‘ilmu dalam beberapa bagian. Ada yang mengatakan ‘ilmu yang wajib untuk dituntut terdiri dari ‘ilmu fiqh, tashauwuf, dan ushuluddin. Ada yang mengatakan yang lain dari pada ini. Semua pendapat ini tidak disalahkan karena masing-masing punya dalil untuk menguatkan pengdapatnya, bahkan sampai yang satu pendapat sangat dibenarkan pengikutnya dan menyalahkan yang lain dan sebaliknya.
Namun ketahuilah olehmu bahwa ‘ilmu thariqat itu adalah yang menyatukan semua ‘ilmu tersebut menjadi satu. Tidak lebih mendahulukan satu ‘ilmu kepada ‘ilmu yang lain, tidak lebih memuliakan yang satu kepada yang lain. Seperti Rasulullah SAW bin ‘abdullah berabad-abad tahun yang lalu tidak mengajak orang untuk mengikuti ‘ilmu ini dulu atau ‘ilmu itu dulu, melainkan mengajak umatnya untuk mengikuti JALANNYA. Nah, kalau mengikuti jalan (thariq)Nya ini dinamakan ‘ilmu, maka inilah yang dinamakan ‘ilmu Thariqat yang mampu membaikkan hati itu.
Bagaimana meng-‘amal-kannya ? Meng-‘amal-kannya atau memperbuatnya dengan cara seperti yang diajarkan oleh Allah Ta’ala melalui perutusan Jibril As kepada Muhammad SAW yang bukan bapak seorang laki-laki diantara kamu. Perhatikan Kalam tuhan : Yaa aiyyuhalladziina aamanuu athii’ullaaha wa athii’urrasuula wa ulil amri min kum. Hai orang yang percaya ta’at patuhlah kamu kepada Allah dan ta’at patuhlah kamu kepada Utusan serta Pemimpin dari kamu. Jadi kalau kamu termasuk orang yang percaya, ikutilah pemimpinmu maka nyatalah Utusan itu kepada kamu dan nyatalah Tuhan bagi kamu. Inilah yang dikatakan meng-‘amal-kan alias memperbuat.
Membaikkan hati dengan meng-amal-kan ‘ilmu thariqat artinya mengikuti si Pemimpin dengan menjalani segala titah perintahnya dengan tidak ada sangka buruk sedikitpun kepadanya. Sehingga lenyaplah penyakit yang ada dalam hatimu yang memang didalam hatimu itu ada panyakit. Fii Quluubihim maradhun (pada hati mereka ada penyakit). Mengikuti Pemimpin tersebut dengan sebenar-benar ikut sehingga tidak ada lagi sehelai rambutpun yang menghalangi antara keningmu dengan tempat tundukmu kepada pemimpin tersebut. Tidak lagi takut dengan ria, takut dengan sombong, takut dengan syirik. Siapa yang takut ria sudah ria, takut sombong sudah sombong, takut syirik sudah syirik. Melainkan mereka takut (taqwa) kepada Allah. Takut kepada Allah, mereka takut kepada Utusan Allah. Takut kepada Allah dan Utusan Allah mereka takut kepada pemimpin yang diturunkan Allah.
Dilanjutkanlah perjuanganmu dengan berdzikir supaya terus terjaga hati dari penyakit. Fazaada humullaahu maradha(n) (maka ditambah Allah penyakit dalam hati mereka). Maka yang selanjutnya perhatikan mana dzikir yang sanggup membaikkan hati.
Mengikuti jalan pemimpin yang didatangkan oleh Allah, amatlah berat bagi manusia sekarang ini. Seperti layaknya amat berat mengikuti jalan Muhammad SAW anak ‘abdullah berabad-abad lalu yang memindahkan qiblat yang selama ini diqiblatkan mereka. Maka setelah kamu percaya (iman), terperintahlah kamu memberi peringatan (berdzikir) kepada manusia sekelilingmu bahwa kalau benar mereka beriman (percaya) kepada Allah hendaklah mereka percaya kepada utusan (Rasul), serta iman (percaya) kepada Allah dan Utusan itu adanya pada Pemimpin yang didatangkan Allah kepada mereka sekarang ini.
Fadzakkir innamaa anta mudzakkir. Maka peringatkanlah mereka, sesungguhnya kamu hanyalah pemberi ingat. Ketika mereka diperingatkan dengan datangnya seorang pemimpin, terjadi dua hal yaitu menentangmu (kafir) atau ikut denganmu (iman), disinilah kamu terkoreksi dengan dzikirmu itu. Boleh jadi mereka menentangmu karena melihat dzahirmu yang masih sering berbuat tidak sesuai dengan syari’at yang mereka kerjakan selama ini atau yang tidak sesuai dengan akal nafsu mereka. Dengan demikian tidak bisa tidak kamu tertuntut pula membenahi dzahirmu itu. Jadi artinya kamu berdzikir bukan untuk membenahi sesiapa melainkan untuk dirimu. Beginilah dzikir yang sangat bermanfa’at terutama untuk dirimu.
Begitu juga boleh jadi mereka ikut denganmu, artinya mereka ikut perintah tuhanmu yang tertera dalam kitabnya. Bukan karena kamu yang pandai atau bukan karena kamu orang mulia. Melainkan kamu adalah manusia yang memikul amanat Allah. Sesungguhnya hal keadaanmu (manusia) itu amat dzalim lagi amat bodoh. (…wa hamalahal insaan, innahuu kaana dzaluuman jahuula. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat dzalim lagi amat bodoh).
Apapun yang terjadi dengan dzikirmu (peringatanmu), apakah mereka percaya atau ingkar, itu semua jangan menjadi goresan (bekas) dalam hatimu (haqiqat taqwa). Karena diperintahkan kepadamu supaya tidak minta balasan atas peringatanmu (seruanmu). Balasanmu hanya dari tuhanmu. Tidak usahkan balasan berupa materi, sampai-sampai balasan mereka ikut denganmu juga tidak menjadi bahan fikiran. Fa innaka ‘alaikal balagh (maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan / mengingatkan / menyerukan).
Demikianlah seterusnya kamu disuruh berdzikir (dzikru Allah) sehingga terbenahilah anggota dzahirmu. Inilah wahai saudaraku yang mempunyai fikiran, dzikir yang sebenar-benar dzikir yang sangat bermanfa’at baik untuk yang lain, terlebih-lebih bagi dirimu baik dzahir maupun bathin. Fa dzakkir innafa’atidz dzikra. Maka peringatkanlah mereka, sesungguhnya inilah semanfa’at-manfa’at dzikir.
Bermula, ta’at kepada Allah dan ta’at kepada Utusan serta pemimpin dari kamu, Inilah agama tauhid (peng-esa-an). Dengan ta’at kamu kepada pemimpin menunjukkan benarlah kamu telah ta’at kepada Utusan Allah, serta telah benarlah kamu ta’at kepada Allah. Begitu juga sebaliknya, kalau kamu tidak percaya kepada pemimpin yang mengajak kamu kejalannya maka sebenarnya yang tidak kamu percayai adalah Allah dan Rasulnya alias kafir. Masih juga menyembah setelah datangnya pemimpin yang memberikan peringatan, maka ia adalah orang musyrik. Masih juga mengatakan Islam setelah diseru kepada pemimpin yang didatangkan Allah, maka ia adalah orang munafiq.
Berpokok pangkal semua ini pada hati, jika baik hati itu maka baik seluruh anggota yang dzahir dan jika buruk hati itu maka buruk seluruh anggota yang dzahir, tidak bisa memandang seorang kamu dengan hanya melihat perlakuan dzahir. Maka tidak bisa baik hati itu melainkan berjalan serta dengan orang yang telah diberi ni’mat atasnya (inilah yang dimaktub dalam kitab Siiras Saalikiin oleh Syekh ‘abdush Shamad yang orang Palembang dengan katanya : “karena tiada jadi baik hati itu melainkan dengan menjalani ‘ilmu thariqat ahlushshufi yakni dengan belajar il’mu thariqat kepada ahlinya serta meng’amalkan akan dia, dan serta mengambil talqin dzikir dan bai’at kepada guru yang mursyid yang sampai silsilahnya itu kepada Nabi SAW hingga kepada Jibril As hingga kepada Haq Allahu SWT Jalla wa ‘azza).