ﻰﻨﺜﻣ ﷲﺍﻮﻣﻮﻘﺗﻥﺍ ﺓﺪﺣﺍﻮﺑ ﻤﻜﻆﻋﺍ ﺂﻤﻧﺍ ﻞﻗ
ﺔﻨﺟﻦﻣ ﻤﻜﺒﺣﺎﺼﺑﺎﻣ ﺍﻭﺮﻜﻔﺘﺗ ﻤﺛﻯﺩﺍﺮﻓﻮ
๏ﺪﻳﺪﺷﺏﺍﺬﻋ ﻱﺪﻳ ﻦﻴﺑ ﻤﻜﻟ ﺮﻳﺬﻧ ﻻﺍ ﻮﻫﻥﺍ
Qul innamaa a’izhukum biwaahidah; antaquumuu lillaahi matsnaa wa furaadaa tsumma tatafakkaruu. Maa bishaahibikum min jinnah. In hua illaa nadziirun lakum baina yadai ‘adzaabin syadiid. (Q.S. Sabaa` 34 : 46)
Katakanlah: Aku hanya mengingatkan kamu akan satu hal, supaya kamu menghadap Allah berdua-dua dan sendiri-sendiri kemudian tafakkurlah kamu. Tidaklah shahibmu itu kerasukan, melainkan dia hanyalah pemberi peringatan bagimu sebelum menghadapi siksaan yang dahsyat.
EPISODE ALMASIH ADDAJJAL
Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Dia menyeru dari alam yang dulu sampai alam yang akan datang, dan sekarangpun kamu diseru. Shalawat serta salam keatas Rasulullah SAW juga kepada orang-orang yang percaya (beriman).
Tuan-tuan sekalian, para ‘ulama`, ustadz, kiai, syekh, atau budak sekalipun, sesungguhnya diantara kamu tidak ada yang terlebih mulia, karena hal keadaan manusia itu adalah umat yang satu, namun ketika datang seorang pemberi peringatan yang ia mengingatkan kamu dengan Alqur`an maka beruntunglah orang yang menerima sipemberi peringatan tersebut, tidak dianiaya sedikitpun. Sebaliknya bagi yang menyombongkan diri dengan ‘ilmu dan amalnya selama ini, sungguh telah sia-sia usaha mereka dalam kehidupan dunia ini sedang mereka menyangka sudah berbuat yang sebaik-baiknya.
Maka dari itu, marilah tuan-tuan, para ‘ulama`, ustadz, kiai, syekh, satukanlah umat dengan berkepemimpinan yang satu agar tidak bercerai berai, dan tidak bergolong-golongan. Sesungguhnya tidak ada pelindung bagimu selain Allah.
Ternyata Alqur`an hanya menjadi sebatas “bacaan” indah yang apabila dibaca maka si pembaca akan mendapat ganjaran pahala, hingga akhirnya mereka terlena dan lupa bahwa lebih daripada itu,
Alqur`an adalah untuk dijalankan, bukan hanya sebatas bacaan dan hiasan yang “disakralkan”, Tetapi menjadi “pedoman dan tuntunan”untuk menuju kehidupan akhirat yang kekal dan pasti akan ditemui.
Sekarang pernahkah dan maukah kita berfikir dan bertanya kepada diri kita tentang hal keadaan ini?
Sudahkah kita menjalankan dan mengamalkan Alqur`an? Atau kita hanya sekedar menjadikannya sebatas bacaan dan hiasan yang disakralkan seperti tersebut di atas tadi?
Mengapa tiap kali datang seseorang yang menyampaikan dan menerangkan tentang Alqur`an dan semata-mata hanya Alqur`an yang tiada keraguan (kesalahan) didalamnya tadi, kebanyakan dari kita lalu menyangkalnya, menyepelekannya, menuduh dengan berbagai tuduhan dan fitnahan tanpa bukti dan bahkan tak sedikit yang menentangnya, sedangkan yang disampaikannya adalah Alqur`an dan ajakannya (seruannya) adalah kepada Islam, bukan kepada yang selain Islam
Dengan Alqur`an sebagai buktinya (dalil)nya. Mengapa? Tentunya anda bisa menemukan jawab nya bila anda memang mau untuk sejenak saja membukakan pintu kenalaran anda dan merenungkannya. Karena Islam itu adalah agama yang sangat logika, sangat mudah untuk difahami dan sangat masuk akal.
Tidakkah hal seperti yang tersebut di atas menjadi suatu hal yang aneh?
Betapa tidak, orang Islam tidak mau diajak kepada Islam? Mereka yang katanya “orang Islam” tidak percaya kepada kalam-kalam ALLAH yang termaktub di dalam Alqur`an yang dibacakan dan disampaikan oleh saudaranya sendiri (orang Islam) dengan bahasa dari golongannya sendiri agar mudah untuk difahami?…
Seperti inikah ciri orang mu’min itu? Tanyakanlah pada hati sanubari anda masing masing.
Relefankah kalam ALLAH yang meyatakan bahwa “sesungguhnya Islam itu bersaudara”, dan “sesungguhnya Islam itu satu”, dengan kenyataan keadaan kita saat ini yang selalu saja berprasangka buruk terhadap orang-orang yang menjalankan dan melaksanakan perintah Tuhannya (perintah ALLAH) yang terangkum didalam Kitabullah (Alqur`an) yang “notabene” adalah orang Islam (saudaranya) untuk menyampaikan berita Alqur`an dan mengajak segenap manusia kepada Islam, kepada satu persaudaraan, satu keyakinan, satu keislaman?….
Masihkah kita tetap enggan untuk mengulurkan tangan kita dan menyatukan langkah bersama mereka? Akankah kita tetap menyombongkan diri dengan ilmu, amal dan sebagainya itu dari seruan dan ajakan orang-orang yang menyerukan kalam Tuhan tadi?
Padahal ilmu, amal dan sebagainya itu adalah kepunyaan ALLAH yang maha kaya, dan seruan yang disampaikan adalah seruan ALLAH yang maha kuasa dan maha perkasa, sementara orang yang menyerukan seruan Tuhannya tadi tiada meminta balasan sedikitpun melainkan menginginkan keselamatan atas diri tiap insan yang diserukannya.
Firman ALLAH:
Yaa qaumanaa, ajiibuu daa’iallaahi wa aminuubihii yaghfirlakum min dzunuubikum wa yujirkum min ‘adzaabin aliim. (Al Ahqaf : 31)
Artinya: Hai kaum kami, terimalah orang yang menyeru kepada ALLAH dan berimanlah kepadanya, niscaya ALLAH akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.
(Al Ahqaf : 31)
Wa man laa yujib daa’iyallaahi falaisa bimu’jizin fil ardhi wa laisa lahuu min duunihii auliaa`, ulaa-ika fii dhalaalin mubiin. (Al Ahqaf : 32).
Artinya: Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada ALLAH maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab ALLAH di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain ALLAH. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Al Ahqaf : 32).
Maka kini terpulang kepada diri anda masing-masing, masih merasa (menganggap bahwa ini hanya suatu berita bohong, atau benar bahwa ini adalah berita dari Tuhan melalui perantaraan seorang hambanya, tetap menyangka bahwa ini hanya semacam bualan “koran” yang tak berguna,atau berita Alqur`an yang tiada keraguan padanya yang diberitakan kepada anda melalui perantaraan bulletin ini dan disampaikan kepada anda melalui perantaraan seorang manusia biasa yang sama seperti anda bentuk dan wujudnya. Dan dia meyakini akan kebenaran Alqur`an itu? Itu terpulang kepada anda. Karena jika anda percaya, tiada keuntungan yang akan diperoleh si penyampai berita, melainkan kemenangan dan keselamatanlah bagi anda yang percaya. Demikian pula sebaliknya, bila anda tidak perduli (mengabaikan) tiada pula kerugian bagi Penyampai berita apalagi bagi ALLAH, karena sesungguhnya
ini semua hanyalah kewajiban selaku ummat dan hamba ALLAH, yaitu “menyampaikan” dan “mengingatkan”.
Firman ALLAH:
Fadzakkir innafa’atidzdzikra. (Al A’ la : 9).
Artinya:
Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa’at.(Al A’ la-9).
Firman ALLAH:
Fazakkir innama anta muzakkir.(AlGhaasyiyah-21).
Artinya: Maka berilah peringatan,karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (Alghasyiyah-21).
Shadakallaahul’azim.
Maha benar ALLAH dengan segala firmanNya.
Penulis: Mhd. Yofi Setiawan Abduh___
WK.Dept. Seni &Budaya Himpass
*Sekarang kami membuka pintu untuk berdiskusi, musyawarah ataupun pertemuan wadah lainnya baik itu diundang atau mengundang. Yang tujuannya agar umat ini bersatu, dan mempunyai pemimpin (Ulama, imam, Khalifah, dsb). Tidak beribadah sendiri –sindiri atau menganggarkan ilmunya masing-masing dan menyatakan mereka paling benar. Sungguh hal demikian adalah membuat kerusakan dimuka bumi.
Seruan kami ini untuk semua kalangan apakah itu muda maupun tua, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, bahkan untuk orang yang berilmu juga alim.*
*
EDISI KELIMA
Jum’at, 03 J. Akhir 1426 H
8 Juli 2005 M
redaksi*